Buah dari perbuatan baik


Ilustrasi. Doc Pribadi
Bagi yang pernah umroh atau haji, tentu tidak asing dengan burung merpati dipelataran masjidil haram, masjid nabawi, atau berbagai tempat lain sudut kota Mekkah Madinah maupun Arab Saudi pada umumnya.

Tidak ada bedanya secara fisik dengan merpati yang saya jumpai di tanah air, bedanya kita dilarang mengganggu apalagi menangkap dan memburunya disini.

Mengapa demikian?

Adalah tatkala Rasulullah SAW yang ditemani Abu Bakar As-siddiq hendak melakukan hijrah ke kota yastrib (Madinah saat ini), dalam rangka mencari tempat penyebaran Islam yang lebih kondusif, namun kaum kafir quraisy tidak menginginkan ajaran yang di bawa Rasulullah SAW keluar Makkah, sehingga melakukan pengejaran untuk menghalangi niat Rasulullah SAW tersebut.

Dalam kondisi terdesak beliau memilih masuk ke Gua Tsur atas petunjuk yang Allah SWT berikan untuk sembunyi dari kejaran kafir quraisy. Di gua yang berada di Jabal (Gunung) Tsur itulah Rasulullah SAW dan Abu Bakar berlindung selama tiga Hari tiga malam, sebagaimana tertuang kisahnya di Al-Qur’an At Taubah ayat 40.

Gua Tsur adalah sebuah gua yang terletak sekitar tujuh kilometer dari Makkah ke arah Thaif. Gua Tsur berada di salah satu puncak Jabal Tsur (lembu), sebuah gunung yang yang cukup tinggi (750m), terjal dan berbatuan yang memiliki dua pintu di sebelah timur dan barat. Pintu sebelah barat itulah yang gunakan Rasulullah SAW masuk gua saat berniat hijrah ke Kota Madinah.

Upaya pengejaran kafir quraisy menuai jalan buntu manakala sampai di sekitar Gua Tsur, kendati berada di sepan pintu masuk gua, mereka tidak mendapati Rasulullah SAW disana, lantaran keberadaan sarang laba-laba dan merpati dipintu masuk gua. "Tidak mungkin ada orang didalam gua karena ada sarang laba-laba yang menutupinya, juga merpati yang mengerami telurnya disana". Dengan logika tersebut akhirnya kafir quraisy menghentikan pengejaran dan kembali ke Makkah.

Jadi, mengapa merpati tidak boleh diganggu disana, erat kaitannya dengan perbuatan sepasang merpati dimulut Gua Tsur, dalam melindungi perjalanan hijrahnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Atas rasa syukur tersebut masyarakat disana melarang siapa saja mengganggu merpati. Demikian penuturan ustadz yang mendampingi ibadah umroh kami.

Luar biasa bukan, karena perbuatan baik leluhurnya bahkan ribuan tahun yang lalu hingga kini keturunannya masih diizinkan Allah mencicipi “buahnya”. Tidak jarang hal itu juga terjadi dalam bidup kita, kendati tidak ikut melakukan perbuatan baiknya, bau wangi nya masih sampai ke anak-cucunya. Oleh sebab itu mari dari sekarang kita tanam berbagai kebaikan sebanyak-banyaknya, hanya persoalan waktu kita akan mendapatkan hasilnya kelak, kalaupun tidak sempat di dunia akan Allah ganti yang lebih baik lagi di akherat kelak.

Perbuatan baik senantiasa akan memberikan kebaikan pula cepat atau lambat bagi mereka yang melakukannya sebagaimana disebutkan dalam AlQur’an dan Hadist.

“Barang siapa berbuat baik, sesungguhnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri, dan jika berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirinya sendiri” (QS Al Isra ayat 7).

“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya” (HR Bukhari – Muslim).

“Barangsiapa memudahkan orang lain yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akhirat” (HR Muslim).


Komentar