Perniagaan yang tiada akan rugi

Kebun Ustman bin Affan (doc pribadi)
Begitu banyak tempat dan bangunan yang menjadi saksi sejarah kehidupan masyarakat pada masa nabi dan rasul, salah satu diantaranya adalah bi’r raumah atau sumur Raumah yang sekarang dinamakan bi’r Utsman.Satu-satunya sumur zaman Nabi Muhammad SAW yang tak berhenti mengalir hingga sekarang. Itulah sumur wakaf dari sahabat Nabi yakni Utsman bin Affan RA, kita tentu sering mendegar kisahnya.

Mengobati rasa ingin tahu, ingin melihat secara langsung salah satu saksi dan bukti perjalanan sejarah, saya mengajak anak dan istri serta meminta seorang ustadz untuk mengantarkan kami ke lokasi tersebut pada kesempatan ramadhan tahun ini. Rasa syukur tak terhingga pada-Mu ya Rabb. Ternyata tersimpan kisah menarik nan inspiratif dibalik sumur tersebut. 

Jadi setahun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hijrah, kota Madinah dilanda paceklik sehingga kesulitan mendapatkan air bersih. Satu-satunya sumur yang masih mengalir adalah milik seorang yahudi bernama Raumah (meskipun masih berbeda pendapat para ahli sejarah soal namanya) yang terletak tidak jauh dari masjid Qiblatain yang berjarak 7Km dari kota Madinah, Arab Saudi. Akibatnya hanya untuk memenuhi kebutuhan air saja, umat Islam harus berduyun-duyun antri. Tak seorangpun boleh minum atau mengambil air disana kecuali harus membayar terlebih dahulu. Tentu hal ini membuat kian sulit kaum muslimin terlebih lagi kaum muhajjirin yang baru hijrah dan meninggalkan harta bendanya di kampong halaman Makkah. Tentu umat menjadi kian resah dengan persoalan ini.

Melihat kondisi umat yang memprihatinkan Rasulullah kemudian menyampaikan kepada sahabatnya (bersabda), “Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan harta untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkan untuk umat, maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala” (HR.Muslim).

Bergegaslah para sahabat termasuk Utsman RA mendatangi pemilik sumur untuk membeli sumur miliknya. Sayangnya, sang pemilik menolak menjual meski ditawar dengan harga bagus dengan alasan penghasilan yang diperolehnya setiap hari akan terhenti. Tidak kehilangan akal, Utsman pun memberikan penawaran menarik, dengan membagi kepemilikan secara bergantian, sehari dimiliki Utsman esok harinya kembali menjadi milik Raumah, begitu seterusnya. Akhirnya dia setuju, ia merasa bisa mendapatkan uang banyak tanpa harus kehilangan sumur pikirnya. Menurut kisah untuk mendapatkan hak tersebut Utsman harus merogoh kocek hingga 12.000 dirham.

doc.pribadi. di kebun kurma Utsman bin affan
Hari dimana sumur menjadi bagian Ustman, ia menggratiskan untuk warga madinah bahkan meminta mereka ambil yang cukup untuk dua hari karena esoknya bukan milik ustman lagi. Keesokan harinya sumur sepi pembeli, demikian seterusnya. Akhirnya yahudi tadi mendatangi ustman untuk menjual setengah lagi kepemilikan sumurnya, dan utsman setuju membeli sumurnya seharga 20.000 dirham. (ahli sejarah juga berbeda pendapat soal jumlah, apakah 20.000 dirham seluruhnya, yang berarti Utsman menambah 8.000 dirham atau 20.000 dirham untuk setengah kepemilikan dari raumah).

Sejak saat itu Utsman RA mewakafkan sumur raumah, sehingga sumur tersebut dapat dimanfaatkan oleh siapa saja termasuk yahudi pemilik lamanya. Itulah bi’r Utsman yang kita kenal saat ini. inilah wakaf sumber air pertama dalam sejarah Islam. Saat ini disekitar sumur ditumbuhi pohon-pohon kurma yang subur yang dikenal Kebun Utsman. 

Hingga kini bi’r utsman bin Affan di lembah wadi, madinah masih dapat kita jumpai. Masyarakat pun masih menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Suatu amaan yang tak terputus, selalu mengalirkan kebaikan bahkan sejak 1.400 tahun silam.

Nah jika hari ini kita mendengar ada rekening wakaf atas nama Utsman bin Affan yang hidup 14 abad yang lalu, itu bermula dari kisah ini, di sekitaran sumur yang diwakafkan tumbuh pohon-pohon kurma, dirawat oleh daulah ustmaniayah, hingga kemudian di lanjutkan oleh kerajaan Saudi (Kementrian Pertanian dan Air) lalu hasil dari perkebunan tersebut ditampung pada rekening  bank atas nama Utsman bin Affan. Separuh dari hasil kebun kurma dibagikan kepada anak-anak yatim dan dhuafa dan setengahnya lagi disimpan di rekening bank.

Kini, dari hasil kebun itu pula telah dibelikan sebidang tanah dan mulai dibangun hotel bintang 5 di sekitar masjid Nabawi yang akan disewakan bagi masyarakat Saudi sendiri atau kepada jama’ah haji dan umroh. Allahu Akbar.

Tidak ada yang tidak mungkin, begitulah ketika Allah SWT memilih diantara hambanya menjadi teladan bagi yang lain, karena ketulusan dan keluhuran niat hambanya  tersebut untuk mencari redho Allah dan Rasul-Nya. Sungguhnya inilah perniagaan yang tiada akan pernah rugi. Perniagaan yang akan menyelamatkan pelakunya dari azab yang amat pedih, yaitu beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, berjihad di jalan-nya dengan harta dan jiwa. Itulah yang lebih baik jika kamu mengetahuinya.

Komentar